Selasa, 12 Juli 2022

 

Sambutan Kepala Sekolah PAUD Darul Uchwah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat datang di laman blog Darul Uchwah Rumpin.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) Terpadu adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Menurut ayat suci yang termaktub dalam Al_Qur’an dijelaskan bahwa anak lahir seperti kertas putih, anak tersebut akan menjadi anak Majusi atau Yahudi, tergantung oleh pendidikan yang diperoleh. Pendidikan untuk anak usia dini juga sangat penting dalam pembentukan karakter pada anak. Menurut Islam pendidikan anak dimulai sejak anak dalam kandungan. Pada usia dini merupakan masa-masa Golden Age, pada masa golden age berumur 0-6 tahun pada masa ini otak anak berkembang 80%.

Pada masa ini pula anak-anak mudah dibentuk oleh karena itu Anak perlu dibimbing dengan cara yang baik dan sesuai dengan usianya, agar nantinya dia menjadi anak yang unggul dalam agama maupun intelektualnya. Oleh Karena itu peran pendidik dan orang tua dalam mendidik anak sangat penting. Orang tua dan pendidik harus melihat potensi anak yang dimilikinya dan orang tua maupun pendidik harus membantu mengembangkan potensi yang dia miliki, dan jangan sampai orang tua memaksa kehendak pada anaknya. Kami memberikan pelayanan pendidikan dengan sepenuh hati kepada seluruh peserta didik, anak-anak yang kami cintai sepenuh hati.

PAUD Terpadu Al Aziz adalah salah satu wadah bermain dan belajar bagi anak-anak kita. PAUD Darul Uchwah siap membantu para orang tua untuk menyelamatkan “Usia Emas” putra putrinya. Perencanaan pembelajaran pada program PAUD Darul Uchwah sudah disusun dengan matang untuk memberikan arah yang tepat dalam proses pembelajarannya dengan mempertimbangkan keseimbangan antara pendidikan umum dan pendidikan keagamaan. Semoga apa yang akan kami berikan melalui blog PAUD Darul Uchwah dapat bermanfaat bagi anak didik. orang tua murid, masyarakat dan sekolah.

Akhir kata, tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan blog ini. Semoga semua yang kami lakukan memberi manfaat bagi kemajuan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepala PAUD Darul Uchwah

Sopiaranti, S.Pd

Sabtu, 16 April 2022

VISI DAN MISI

VISI DAN MISI 

MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH

DARUL UCHWAH


VISI 

Terwujudnya Generasi Muslim yang Sholeh, Cerdas dan Mandiri

 

 

MISI 

1. Membekali Siswa (Santri) dengan ilmu agama ala ahlussunnah waljamaah 

2. menanamkan nilai-nilai ubudiyah dalam kehidupan sehari-hari 

3. Mendidik dan membimbing Siswa (Santri) dalam menjalin ukhuwah islamiyah yang berdasarkan akhlakul karimah

4. Membentuk generasi muda yang cerdas dan berwawasan Islami

Sabtu, 22 Januari 2022

Ngalap Barokah



Ada dua pesan penting yang tertulis di kaca maqbaroh Imam Syafi’i. dua lembar kertas sebagai bahan renungan untuk banyak orang, karena makam beliau adalah salah satu makam yang ramai dikunjungi. Salah satu bunyi pesan tersebut memberikan kita legalitas bahwa tabarruk, atau ngalap barokah itu tidak dilarang.

“Bolehnya bertabarruk dengan bekas peninggalan rasul .

Imam Ahmad bin Hanbal selalu membawa tiga helai rambut rambut Nabi SAW. Beliau menciumnya dan meletakkannya di atas kepala beliau. Beliau mencelupkan tiga helai rambut tersebut ke dalam air kemudian meminumnya berharap kesembuhan dan keberkahan. Beliau berwasiat agar tiga helai rambut tadi di letakkan satu helai di mulut beliau dan dua helai di kedua mata beliau tatkala beliau wafat.” setidaknya demikian bunyi tulisan yang diriwayatkan al-Hafidz al-Dzahabi dan Ibn Jauzi tersebut bila diterjemahkan secara bebas.

Barokah, atau berkah, itu memang ada. Allah SWT sendiri yang telah memfirmankannya dalam Alquran.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبارَكاً وَهُدىً لِلْعالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

وَنَزَّلْنا مِنَ السَّماءِ مَاءً مُبارَكاً فَأَنْبَتْنا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfa’atnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaf: 9)

Ia memiliki arti bertambah. Bisa diartikan juga, bertambahnya kebaikan. Tabarruk atau mencari berkah sudah dilakukan sejak dahulu. Bahkan sejak zaman para sahabat nabi. Banyak sahabat berebut air bekas wudhu nabi. Dan banyak sahabat berebut rambut nabi selepas beliau tahallul ketika umrah dan haji wada’. Konon, salah satu sahabat yang setia menyimpan helai rambut nabi tersebut adalah Khalid bin Walid RA. Beliau selalu membawa serta rambut tersebut dengan cara disembunyikan dalam penutup kepala beliau, hingga ketika beliau diangkat menjadi panglima tertinggi pasukan muslim, pasukan yang beliau pimpin tak pernah mengalami kekalahan[1].

Tabarruk tidak dilarang. Para ulama salaf banyak melakukannya. Jika kita melihat banyak kisah-kisah hikmah, kita akan temukan dalil tersirat kebolehan bertabarruk. Dikisahkan, Imam Syafi’i suatu ketika mengutus salah satu muridnya, Rabi’ bin Sulaiman untuk berkirim surat kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Dari Mesir, Rabi’ melakukan perjalanan menuju Baghdad membawa surat tersebut. Sesampainya di tempat Imam Ahmad, surat itu diserahkan. “sudahkah kau membacanya?” Tanya Imam Ahmad. “Tidak” jawab Rabi’. Ketika surat tersebut dibaca, Imam Ahmad menitihkan air mata. “Wahai Abu Abdillah, apa yang tertulis disitu?” Tanya Rabi’. “Imam Syafi’i menyebut, bahwa beliau berjumpa Rasulullah SAW dalam mimpi. Rasul berkata, kirimlah surat kepada Abdullah Ahmad bin Hanbal, dan bacakan salamku untuknya. Lalu katakan padanya, ‘engkau akan diuji dengan pendapat yang mengatakan bahwa Alquran adalah makhluk, maka jangan ikuti pendapat tersebut. Dan Allah tidak akan mengangkat ilmumu hingga tiba hari kiamat.’” Imam Ahmad lantas menghadiahi Rabi’ sebuah baju gamis yang sedang beliau kenakan. Sepulang kembali ke Mesir, diceritakanlah semua itu pada gurunya. Baju gamis pemberian Imam Ahmad tidak diminta oleh Imam Syafi’i,  tapi beliau hanya meminta Rabi’ mencuci baju tersebut. Dan air yang menets dari baju tersebut diminum oleh Imam Syafi’i sebagai wujud tabarruk kepada Imam Ahmad.[2]

Hakikat tabaruk menurut Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki sebenarnya sama dengan tawassul. Kita bertawassul kepada Allah SWT dengan perantara orang atau sesuatu yang diberkahi. “Tabarruk maknanya tidak lain adalah sebagai media tawassul kepada Allah SWT dengan lantaran sesuatu yang diberkahi tadi. Entah itu barang-barang peninggalan, tempat, atau seseorang.”[3]

Bukan karena orangnya kita ngalap barokah, namun karena kedekatan orang tersebut kepada Allah SWT dan nilai tinggi derajat orang tersebut dimata Allah SWT. Sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang nihil. Tak memiliki arti apa-apa jikalau tak pernah ada istilah takwa. Tak layak punya sejarah yang dikenang jika bukan karena ilmu atau jasa. Bukan karena peninggalan seseorang kita bertabarruk, sebab peninggalan seseorang hanyalah benda mati yang tak bernilai apapun jika tak pernah disentuh oleh orang-orang seperti Nabi Muhammad SAW. Tak lebih dari sekedar seonggok makhluk yang hening pada hakikatnya. Dan bukan karena tempatnya kita bertawassul –dalam bahasa Sayyid Muhammad-, sebab tempat adalah bagian dari bumi yang oleh Allah SWT dianggap sesuatu yang amat hina, begitu tak berharga, dan maha kecil, dibandingkan kekuasaan Allah SWT itu sendiri.

Pada titik kesimpulannya, masih menurut Sayyid Muhammad, sebenarnya jika kita mengerti sejarah, itu sudah menjadi cukup bukti bahwa tabarruk tidak dilarang. Cukup kiranya kita melihat cermin yang tak retak, melihat dengan kacamata yang jernih. “Bertabarruk dengan Nabi SAW, dengan peninggalan-peninggalan beliau, dan dengan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan beliau hukumnya sunnah, dan termasuk jalan yang terpuji. Cukuplah kiranya untuk membuktikan hal tersebut banyak hal-hal yang telah dilakukan para sahabat terpilih, dan pengukuhan dari Nabi SAW atas hal tersebut.”[4]

Pada akhirnya terserah pada kita, masihkah kita menyombongkan perasaan “merasa dekat dengan Sang Pencipta”? Perasaan semu, yang disadari atau tidak telah menumpahkan keegoisan dalam diri. Ataukah kita lebih menyadari, mungkinkah orang seperti kita lebih mulia dari para sahabat? Atau lebih sadar lagi, mungkinkah orang macam kita lebih mulia daripada sehelai rambut Nabi yang turut dimakamkan bersama jasad Imam Ahmad?

 

 

[1] Lihat Majma’ Zawaid Juz 9 Hal 349.

[2] Bidayatul Hidayah. Juz 10, Hal 231.

[3] Mafahim Yajbu An Tushohhaha. Hal. 232.

[4] Ibid. Hal. 257.

Rabu, 12 Januari 2022

PENDAFTARAN SANTRI BARU (PSB)

 

INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU (PSB)
TPQ / MDT / PAUD DARUL UCHWAH

Persayaratan : 
1. Usia 2-8 Tahun (TPQ), Usia 8-12 Tahun (MDT), atau Usia 4-6 Tahun (PAUD) Terhitung sejak tanggal 1 Juli,
2. Mengisi formulir pendaftaran
3. Melampirakan photo copy Akte Lahir (1 lembar)
4. Melampirkan photo copy KK (1 lembar)

Alur Pendaftaran Santri Baru (PSB) Darul Uchwah
  1. Calon santri/siswa datang ke madrasah dengan membawa persyaratan sesuai ketentuan,
  2. Kemudian meminta formulir pendaftaran kepada panitia bagian informasi dan pembagian formulir,
  3. Calon siswa mengisi formulir tersebut dengan meminta panduan kepada panitia,
  4. Setelah selesai, kembalikan formulir tersebut kepada panitia,
  5. Selanjutnya panitia akan mengentry data pendaftaran ke komputer. Panitia akan melakukan verifikasi data serta berkas-berkas pendaftaran calon santri,
  6. Setelah data pendaftaran dinyatakan sah sesuai dengan ketentuan pendaftaran, maka panitia akan memberikan tanda bukti pendaftran kepada calon santri,
  7. Calon santri/siswa menerima tanda bukti pendaftaran untuk dipergunakan sesuai aturan.
UNTUK PENDAFTARAN ONLINE (SEMENTARA) SILAHKAN ISI KOTAK FORM PSB : 

DOWNLOAD FORMULIR PPDB/PSB

Setelah melakukan pendaftaran, silahkan konfirmasi melalui panitia, Kontak Layanan : 0838-9560-8062